PEMETAAN EPISTEMOLOGI ISLAM PERSPEKTIF ABID AL-JABIRI DAN SARI NUSIBEH


PEMETAAN EPISTEMOLOGI ISLAM PERSPEKTIF ABID AL-JABIRI DAN SARI NUSIBEH

PEMETAAN EPISTEMOLOGI ISLAM PERSPEKTIF ABID AL-JABIRI DAN SARI NUSIBEH

           Secara filosofis-spekulatif, Epistemologi Islam dikaji oleh ilmuan Barat sebagai diskursus yang tengah serius menjadi problematika Intelektualitas Islam berikut pemetaan strukturnya. Beberapa pemetaan komprehensif terhadap kajian epistemologi Islam yang dirangkum dari argumen Abid Al-Jabiri serta pemetaan pemikiran Islam menurut Sari Nusibeh.
            Abid Al-Jabiri memetakan nalar epistemologi Islam dalam rangka Ihya’ at-Turats Arab-Islam. Ada tiga otoritas yang ditemukan dalam penelitian Abid Al-Jabiri yang mencirikan pemikiran nalar Arab klasik antara lain: (1). Otoritas term (sulthah al-alfazh). (2). Otoritas sumber (sulthah al-ashl). (3). Otoritas keserbabolehan (sulthah al-tajwiz). Selain itu, Abid Al-Jabiri juga mengemukakan bahwa nalar Arab dibentuk oleh tiga model penalaran antara lain nalar bayani, nalar irfani dan nalar burhani. Berikut uraian singkatnya:
                 1.      Nalar Bayani
Nalar bayani menggunakan dalil teks (nash) sebagai tolak ukur suatu kebenaran. Baik teks itu sendiri yang menunjukan kebenaran, atau berdasarkan interpretasi dari teks lain. Nalar bayani sama sekali tidak menerima rasio sebagai kekuatan signifikan. Adapun metode yang digunakan dalam nalar ini adalah metodologi qiyas yang kembali kepada teks.
Dalam upaya mendapatkan pengetahuan, metode bayani menempuh dua jalan. Pertama, menggunakan kaidah bahasa Arab nahwu dan shorof. Kedua, menggunakan metode analogi.
2.      Nalar Irfani
Nalar Irfani kaitannya dengan pengetahuan yang diperoleh secara langsung menggunakan perantara pengalaman. Bersumber lewat penyinaran hakikat secara langsung dari Tuhan kepada hamba-Nya setelah menemuh proses pengorbanan ruhani atas dasar cinta (riyadhah). Bayani menggunakan otoritas tolak ukur kebenarannya pada teks, irfani menggunakan intuisi dan terbukanya batin merupakan otoritasnya.
Hal yang didapatkan dari ilmu ini diistilahkan dengan (al-Ilm al-Hudhuri), dimana mukasyafah dan musyahadah sebagai komponen utamanya. Dimana kasyaf sendiri oleh Al-Ghazali dipandang sebagai sebuah aspek Epistemologi tertinggi. Sebab pemahaman yang didapat bukan lagi melalui inderawi, melainkan melalui jalur intuitif. Kejernihan hati merupakan salah satu syarat untuk dapat menggunakannya.
 3.      Nalar Burhani

Sebagaimana didefinisikan oleh Al-Jabiri, bahwa Al-Burhan merupakan suatu argumentasi yang kuat dan jelas. Berbeda dengan Ifani suatu metode berfikir dengan menggunakan intelektual, eksperiman dan atau logika, dimana panca indera merupakan perantaranya. Secara mudah, nalar burhani bertumpu pada rasio seseorang. Bayani menetapkan kebenaran proposisi melalui pendekatan deduktif serta mengaitkannya dengan proposisi yang lain yang secara aksiomatik kebenarannya sudah teruji. Sama dengan bayani, burhani juga menggunakan qiyas. Hanya saja qiyas yang digunakan oleh burhani tak kembali pada teks, melainkan melalui rasio dan eksperimentasi melalui tahapan-tahapan yang ada.
Berbeda dengan Al-Jabiri, pemetaan model lain juga dilakukan oleh Sari Nusibeh dalam rangka menjelaskan secara komprehensif mengenai pemetaan aliran-aliran epistemologi dalam Islam ke dalam empat varian antara lain:
1.      Pendekatan Konservatif
Model pendekatan yang mengasumsikan kebenaran terhadap; (1). Teks wahyu, (2). Nalar logika melalui teks tersebut.
2.      Pendekatan Dialektis
Model pendekatan yang digunakan oleh para Mutakallimun masih sama merujuk pada teks, namun dalam pendekatan epistemologinya menggunakan “logika yang unik” antara lain: (1). Hubungan logis (distingtif atas hubungan kausal), (2). Penggunaan wacana terminologi khusus seperti; ma’na, haal, maudlu’i, sukun an-nafs.
3.      Pendekatan Filsafat
Pendekatan epistemologi yang mendasarkan kebenaran pada “body of knowladge” atas sejumlah ide filsafat sebagai rujukan.
4.      Pendekatan Mistis
Jenis pendekata epistemologis yang sama dengan konsepsi nalar irfani milik Al-Jabiri. Menggunakan intuisi sebagai jembatannya serta produk “Ilm al-Hudhuri”.
            Pemetaan Epistemologi islam milik Nusibeh memiliki persamaan serta perbedaan dengan milik Abid Al-Jabiri. Hanya saja, pemetaan yang dilakukan Nusibeh lebih banyak yang ditransmisikan pada ilmu-ilmu yang ditransmisikan (naqliyah) dan pada disiplin kalam.
*PANDANGAN PRIBADI (Ruang Lingkup Internal)
            Konsep Abid Al-Jabiri telah membuka kebuntuan berfikir pribadi penulis yang berlatas belakang sebagai seorang santri (rung lingkup internal, adapun secara universal adalah seluruh intelektual muslim). Bahwa hampir seluruh pesantren salaf, pada ranah Epistemologinya masih terpaut pada kekakuan teks baik nash maupun naqli/qiyas. Dimana secara umum, kekakuan tersebut terus dipaksakan hingga menuntut teks yang ada dapat menjawab berbagai problematika baru yang telah jauh terpaut masa dari kurun dimana teks tersebut ada pada mulanya. Sebagai jalan keluarnya, maka konsepepistemologi Abid Al-Jabiri tentang Nalar Burhani sejatinya perlu dikaji kembali dan diterima secara perlahan. Mengingat sekalipun ada, Nalar Irfani sungguh sangat terbatas pada ranah syarat komponennya.
            Setidaknya, argumen yang diajukan oleh Al-Syathibi perlu dikaji secara komprehensif sebagai upaya Ihya’ at-Turats yang hingga sampai ke sini semakin berkutat pada keterbatasan produk teks (secara umum mengacu pada pengarang), yang dianggap kredibel khususnya di nusantara. Berusaha lepas dari konsep Al-Syafi’i, ide Al-Syathibi berupa acuan pada (maqâsid al-syarî’ah) sebagai upaya pemberian dasar rasionalitas atas hukum-hukum, merupakan upayamenyadarkan bahwa Ijtihad dengan cara lama sudah bukan solusi lagi.
            Sejujurnya, penulis pribadi bukan tidak ingin menelaah karangan Abid Al-Jabiri yang lain. Sungguh menarik dan meluaskan wawasan. Hanya saja, ketersinggungan antara satu tugas kuliah individual ini dengan yang lain sungguh pun membutuhkan waktu ekstra cepat guna menyelesaikannya secara keseluruhan dalam waktu satu minggu. Terimakasih.

0 Response to "PEMETAAN EPISTEMOLOGI ISLAM PERSPEKTIF ABID AL-JABIRI DAN SARI NUSIBEH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel