Kisah Masa Kecil Sang Proklamator "Soekarno"

Kisah Masa Kecil Sang Proklamator "Soekarno"

Kisah Masa Kecil Sang Proklamator "Soekarno"

#Soekarno Lahir, Soekarno dibesarkan... Soekarno Kecil (Bag; 1)

Soekarno-Pada tanggal 6 Juni 1901, sebuah rumah kecil di Lawang Seketeng, Surabaya, digegerkan oleh suara tangis seorang bayi. Ida Ayu Nyoman Rai melahirkan bayi laki-laki, yang tak lain merupakan buah cintanya bersama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Bayi mungil itu kemudian diberi nama Koesno, lengkapnya Koesno Sosrodihardjo. Tak hanya membuat geger lingkungan sekitarnya ketika lahir, di kemudian hari bayi tersebut juga sering membuat "geger" rakyat dan bangsa Indonesia, bahkan juga beberapa negeri lainnya.

Raden Soekemi adalah seorang guru yang berasal dari keluarga ningrat di daerah lawa Timur. Sedangkan Ida Ayu berasal dari seorang keturunan darah biru pulau Bali. Keduanya sama-sama berasal dari darah bangsawan. Raden Soekemi keturunan Sultan Kediri. Sebelum Soekarno lahir, keduanya sudah memiliki seorang putri bernama Sukarmini. Di masa perjuangan. Sukarmmini akrab disapa dengan panggilan Ibu Wardoyo.

"Aku adalah putra seorang ibu Bali dari kasta Brahmana. Ibuku, Idaju, berasal dari kasta tinggi Raja terakhir Singaraja adalah paman ibuku. Bapakku dari Jawa. Nama lengkapnya adalah Raden Sukemi Sosrodihardjo. Raden adalah gelar bangsawan yang berarti, Tuan. Bapak adalah keturunan Sultan Kediri". Begitulah Bung Karno menuturkan silslah keluarganya kepada Cindy Adams, penulis bulu grafinya yang berjudul Bung Karno Penjambung Lidah Rakyat Indonesia (2007).

Baca Juga: Kisah Pergantian Nama "Koesno" Menjadi "Soekarno"!

Keduanya (Raden Soekami-Ibu Ida Ayu) bahkan bisa dikategorikan sebagai orang yang berada dalam kondisi ekonomi kekurangan. Pada Saat Bung Kano lahir, keduanya tak mampu memanggil dokter atau dukun untuk bantu proses persalinan. Alasannya, tak lain dan tak bukan penyebabnya adalah karena tak ada biaya. 

"Berlainan dengan pertanda-pertanda yang mengiringi kelahiranku itu, maka kelahiran itu  sendiri sangatlah menyedihkan. Bapak tidak mampu memanggil dukun untuk menolong anak yang akan lahir. Keadaan kami terlalu ketiadaan. Satu-satunya orang yang menghadapi ibu ialah seorang kawan dari keluarga kami, seorang kakek yang sudah terlalu amat tua. Dialah, dan tak ada orang lain selain dari orang tua itu. yang menyambuku menginjak dunia ini". -Soekarno

Demikian halnya dalam kehidupan sehari-hari, Koesno (nama awal Sukarno) tak bisa hidup berlebih. Sebagai seorang guru rendahan, Raden Soekemi hanya mendapat gaji kecil yang selalu habis untuk membayar sewa kontrakan rumahnya. Itulah mengapa kehidupan Soekarno kecil jauh dari kemewahan. 

Suatu ketika, setelah Bung Karno menjadi presiden, ia pernah bercerita tentang kehidupan masa kecilnya itu. Ujarnya, di masa kanak- kanaknya ia tak setiap hari bisa makan enak. Bahkan nasi pun sudah tergolong makanan mewah bagi keluarganya. Untuk bisa makan nasi, ibunya harus membeli gabah atau padi yang belum ditumbuk. Harga gabah lebih murah, dengan begitu ia bisa lebih hemat dan sisa uangnya bisa digunakan membeli sayur. Soekarno kecil juga harus menumbuk padi terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke sekolah.

Meskipun harganya murah, namun sang ibu tetap tak bisa membeli gabah setiap hari. Terkadang mereka hanya bisa membeli ubi kayu atau jagung. Bahkan tak jarang Koesno harus rela berpuasa karena tak ada uang di kantong ibu untuk belanja. Kalaupun bisa merasakan nikmatnya ikan sebagai lauk, ikan tersebut tak lain didapatkan dari hasil jerih payah Koesno memancing.

Kisah Masa Kecil Sang Proklamator "Soekarno"

Bunda Soekarno... Ida Ayu Nyoman Rai


"Bila sesekali kami makan ikan, hampir-hampir boleh dipastikan ikan itu adalah hasil jerih payah Karno memancing," kenang Sukarmini. Kesulitan ekonomi di keluarga Soekarno kecil terus berlanjut hingga ia berusia 10 tahun. "Waktu itu kami tinggal di Jalan Pahlawan 88, Mojokerto. Gaji Bapak 25 Gulden, sewa rumah 10 Gulden, kami hidup sekeluarga dengan hanya 15 Gulden dalam sebulan. Bila dikurs dengan dolar ketika itu menjadi sekitar 4.5 dollar gaji ayah sebulan."

"Betapa kecilnya penghasilan keluarga kami itu" terang Sukarmini. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur dengan kadar asupan gizi yang kurang itulah, Soekarno kecil jadi sering sakit-sakitan, "Aku memulai hidup ini sebagai anak yang penyakitan. Aku mendapat malaria, disentri, semua penyakit, dan setiap penyakit." Keadaan ekonomi yang serba kekurangan itu membuat Koesno tumbuh sebagai anak yang juga serba kekurangan. la jadi kurang makan, kurang gemuk, kurang sehat, dan kurang terurus. la pun tumbuh dengan perawakan yang ringkih dan sering sakit-sakitan.

Karena kondisi fisiknya yang memprihatinkan, saat Koesno menginjak usia 3 tahun, orang tuanya memutuskan untuk menitipkannya di kediaman kakek dan neneknya di Tulung Agung, Jawa Timur. Tak berbeda dengan kondisi orang tuanya, kakek Koesno yang bernama Raden Hardjodikromo secara finansial juga tergolong miskin. Namun, bapaknya tetap mempercayakan Koesno tinggal bersama kakeknya dengan alasan supaya Koesno dapat segera mentas dari penyakit kambuhan yang dideritanya. Keyakinan Raden Soekemi tersebut juga bukan tanpa alasan. Raden Hardjodikromo ternyata memang sudah dikenal "sakti" oleh lingkungan sekitarnya.

la meyakini ilmu-ilmu kejawen dan sering melakukan tirakat serta ritual-ritual yang lazim dilakoni oleh masyarakat yang meyakini ilmu ke-kejawenan. Kakek Soekarno juga dikenal sebagai seseorang yang sakti serta disegani oleh masyarakat sekitar. Oleh karenanya, warga sekitar menjadikan kakek Sukarno sebagai pinisepuh, yaitu orang-orang yang memiliki andil besar pada nasib suatu daerah tertentu.

Ketika pertama kali Koesno datang ke rumah kakeknya di suatu hari, kondisi tubuh sang Koesno sangatlah kurus kering. Sebagai mana cara waktu itu, seseorang yang sakit biasa disembuhkan dengan "Suwuk" serta dirawat oleh kakeknya. Melihat cara sang kakek merawat cucunya, menunjukkan bahwa Soekarno adalah cucu yang paling disayang oleh sang Kakek Sosrodiharjo. Sebagai kakek pada umunya, Soekarno juga tak pernah lepas dari nasihat dan petuah dari sang Kakek.

Bersambung...

0 Response to "Kisah Masa Kecil Sang Proklamator "Soekarno""

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel