Contoh Format Review Jurnal - Praktis dan Mudah

Contoh Format Review Jurnal - Praktis dan Mudah

Contoh Format Review Jurnal - Praktis dan Mudah

Judul  Jurnal : Pengembangan Dan Tantangan Kehidupan Sosial Pesantren Garasi di
Jawa Timur
Tahun             : 2019
Penulis            : Muhamad Husni, Fathul Wahab (Fak. Tarbiyah IAI Al-Qolam Malang)
Publikasi        : Annual Conferens for Muslim Scholars 2019
Reviewer        : Syifa’ur Romli (22002012012)

  1. Latar Belakang
Pesantren merupakan lembaga sebagai wujud dari proses perkembangan sistem pendidikan Nasional. Dari segi historis, pesantren tidak hanya melulu identik dengan keislaman tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia. Sebab lembaga yang serupa dengan pesantren sebenarnya sudah ada sejak masa kekuasaan Hindhu-Budha di Indonesia. Sehingga, dengan hadirnya Islam tinggal meneruskan dan mengislamkan lembaga-lembaga yang sudah ada. Meskipun tentunya, hal ini bukan berarti menciutkan peranan Islam dalam kiprahnya mempelopori pendidikan di Indonesia.[1]
Dalam perkembangannya, pesantren telah menjadi lembaga yang mempunyai karakteristik atau ciri khas tersendiri dibandingkan dengan lembaga pendidikan lainnya. Karakteristik atau ciri khas pesantren yaitu lembaga pendidikan yang khusus mendalami ajaran agama Islam yang dalam literatur dan metodenya menganut sistem terjemah menggunakan bahasa lokal seperti; Jawa, Madura atau Sunda. Pendidikan di dalam pesantren lebih kompleks sebab pendidikan di pesantren tidak hanya bersifat teoritis tetapi juga aplikatif, artinya tidak hanya materi tetapi juga praktek sebagai wujud pengamalan ilmu yang telah diketahui. Meskipun demikian, pesantren tidak menutup diri dari perkembangan sains dan teknologi, sehingga pesantren dinilai lebih unggul dari pada lembaga pendidikan lainnya.
Sedangkan dunia pendidikan formal yang identik dengan sarana dan prasarana serta gedung yang lengkap dengan fasilitas pendukung seperti kelas dan lainnya. Hal ini yang kemudian menjadi pembeda antara pendidikan formal dengan pesantren sebab di dalam dunia pesantren diterapkan sistem pembelajaran tanpa kelas atau tanpa sekat, dimana pada setiap kelompok ada satu ustadz yang mengajar sesuai dengan tingkat dan materinya.  Sebagaimana salah satu subyek dalam penelitian ini yaitu MI Amanah yang berlokasi di Desa Tanggung Kecamatan Turen Kabupaten Malang, yang didirikan melalui inspirasi dari tokoh masyarakat setempat untuk mendirikan lembaga formal yang menerapkan metode kelas tanpa sekat (class without wall).
  1. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui dan mengembangkan eksistensi pesantren dalam mencetak generasi terbaik di era milenial
2.      Untuk mengetahui dan mengembangkan konstruksi dan mempertahankan pesantren garasi di Jawa Timur
  1. Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi sebagai pendekatan perspektif dalam penelitian kualitatif. Yang dalam prakteknya, fenomenologi bekerja pada fakta ilmiah dari perkataan maupun perbuatan seseorang. Penelitian ini terfokus pada lokasi pesantren yang berada di Jawa Timur, dengan pertimbangan bahwa Jawa Timur adalah Provinsi yang dikenal dengan jumlah pesantren yang cukup banyak.
  1. Hasil Penelitian
Mengacu pada rumusan masalah bahwa peneltitan ini dilakukan tidak hanya untuk mengetahui seluk beluk pesantren, tetapi juga untuk mengembangkan eksistensi pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai urgensi di bidang pendidikan Indonesia. Mengingat di era modern ini generasi muda sangat riskan terjerumus jika tidak diimbangi dengan bekal ilmu agama yang bisa didapatkan melalui pesantren. Semuanya dapat dibuktikan secara nyata mengingat fungsi pesantren yang dinamis selalu dipertahankan serta berkembang menyesuaikan kondisi masyarakat global. Sehingga pesantren bukan lagi hanya lembaga pendidikan yang berisi syi’ar tentang agama dan berfungsi sebagai lembaga sosial yang kolot, tetapi juga seimbang dengan memperhatikan relevansi keilmuan lain sebagaimana berkembangnya sains dan teknologi.[2]
Berbagai sistem dan metode diatur sedemikian rupa serta dikembangkan untuk terus lebih baik demi mencetak generasi muda muslim yang berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi di masa depan. Baik metode sorogan maupun bandongan yang diterapkan agar santri dapat menangkap terjemah, keterangan sekaligus mengulas teks-teks arab tanpa harakat (kitab gundul) yang dibacakan oleh Kyai. Setelah bekal teori didapatkan, dibentuklah sebuah jalsah (perkumpulan santri) dengan berbagai macam bentuk seperti; musyawarah/bahtsul masail, muhafadzah, muhawarah dan muhadatsah sebagai tolak ukur atau evaluasi terhadap sejauh mana pemahaman santri terhadap materi dan teori yang telah diperoleh. Yang semua kegiatan tersebut dilakukan dengan sistem pembelajaran tanpa sekat.
Dalam perkembangannya, terdapat dua tipe pesantren yakni tipe pesantren khlafiyah (modern) dan tipe pesantren salafiyah. Keduanya mempunyai tujuan yang sama, meskipun dalam kepemimpinannya mempunyai corak yang berbeda. Pada pesantren tipe khalafiyah bersifat kolektif demokratis sehingga sistem pengambilan keputusan tidak terpusat pada Kyai. Demikian pula dengan sistem kurikulum yang menyerupai sekolah formal berstandar Pendidikan Nasional, sedangkan pada tipe pesantren salafiyah tidak memakai sistem kurikulum tetapi dikenal dengan manhaj. Di antara pesantren yang menerapkan dua metode tersebut adalah Pondok Pesantren Asy-Syadziliy Pakis Malang, Pondok Pesantren An Nur 1, 2 dan 3 di Bululawang Malang, Pondok Pesantren al Munawariyah di Sudimoro Turen Malang, Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 2 di Putukrejo Gondanglegi Malang, Pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 di Ganjaran Gondanglegi Malang dan lain sebagainya.
Demikian juga MI Amanah di Desa Tanggung Kecamatan Turen selaku madrasah formal menerapkan sistem yang sama dengan pesantren. Dengan mendesain berbagai sistem dan metode pembelajaran yang sedemikian rupa disesuaikan dengan komposisi keilmuan serta kemampuan tenaga pengajarnya berdasarkan kata mufakat para tokoh masyarakat. Terinspirasi dari sistem pembelajaran di pesantren yang melakukan pembelajaran tanpa sekat, sehingga proses pembelajaran dapat dilaksanakan dimana saja menyesuaikan kuantitas muridnya. Sistem pembelajaran tanpa sekat terdiri dari beberapa rombel (rombongan belajar) yang berisi 12 murid dan satu tenaga pengajar pada setiap rombongan belajarnya. Dan dinamakan pendidikan garasi atau pendidikan inklusi sebab proses pembelajarannya bertempat di tempat yang luas dan bebas dari sekat sehingga serupa dengan garasi.[3]
Dalam kesehariannya, Sekolah Garasi (MI Amanah) memiliki jadwal yang padat bagi murid-muridnya. Selain menempuh pendidikan formal, juga diwajibkan bagi para murid untuk mempelajari bidang ilmu yang tak kalah penting yaitu ilmu agama. Dan dengan hal itu, para guru dan pengurus lembaga setempat memberlakukan sistem wajib sholat berjama’ah dhuhur dan ashar juga sholat sunnah dluha. Diberlakukan demikian karena pada pagi hingga siang hari para murid mengikuti pembelajaran formal sebagaimana lembaga pendidikan formal lainnya, sedangkan sore harinya (yakni pukul 14.00 – 17.00) dilanjutkan dengan kegiatan mengaji Al-Qur’an dan mengkaji ilmu-ilmu Islam yang lainnya.
Berbagai desain pengembangan keilmuan yang dianut pada sampel sebagaimana tersebut di atas, sejalan dengan pemikiran para ahli. Di antara pemikirannya adalah mengenai teori pendidikan yang memadukan kebutuhan intelektual anak didik (atau dalam pesantren disebut santri) dengan kemampuan tenaga pengajar yang menyesuaikan aksesibilitas yang dimiliki pada setiap lembaga.[4] Pendapat ini kemudian menjadi salah satu factor penguat didirikannya sistem pembelajaran tanpa sekat sebagaimana dibangunnya MI Amanah, dan sebagaimana yang telah diberlakukan pada pondok pesantren sejak dahulu. Paradigma ini dibangun berdasarkan keyakinan masyarakat bahwa pada hakikatnya tiada perubahan yang akan terjadi melainkan atas kehendak Tuhan, gagasan tersebut menjadi rujukan sebab melihat pentingnya harmoni dalam masyarakat demi menghindarkan konflik dan kontradiksi.[5]
  1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengembangan dan tantangan kehidupan sosial pada pesantren adalah sebagai berikut :
  1. Pesantren sebagai lembaga yang mempunyai ciri khas dalam pembelajarannya tetap mempertahankan manhaj yang telah ada sejak lama seperti sistem sorogan, bandongan, bahtsul masail dan lainnya serta tetap terbuka pada dinamika berkembangnya zaman sehingga tetap relevan baik keilmuan klasik dan modern.
  2. Metode yang diterapkan di pesantren dinilai lebih unggul dibandingkan lembaga pendidikan lainnya sebab di pesantren terdapat sistem pendidikan yang lebih kompleks. Dimana santri tidak hanya belajar teori melainkan juga bagaimana cara implementasi ilmu yang telah didapatkan. Sehingga sangat berguna bagi para santri nantinya Ketika kembali di tengah-tengah masyarakat.
  3. Atas kolaborasi dua bidang keilmuan yaitu ilmu agama dan ilmu umum menjadikan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mampu menjawab segala tantangan perkembangan zaman. Sebab para santri telah dibekali ilmu-ilmu agama dan juga ilmu sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi, sehingga mempu mengembangkan kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik dan berkembang pesat dengan segala persoalannya.



[1] Nurcholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren (Jakarta: Paramadina, 2010), hlm. 17.
[2] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai, (Jakarta: LP3ES, 1994), hlm. 44.
[3] Majalah Komunikasi UM, (23 Maret 2015).
[4] Indra Bastian dan Olivia Idrus, Modul Akuntansi Pendidikan, hlm. 05.
[5] Mansour Fakih, Ideologi dalam Pendidikan “Sebuah Pengantar dalam William F. O’neil Ideologi-Ideologi Pendidikan”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 99.

0 Response to "Contoh Format Review Jurnal - Praktis dan Mudah"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel